PELUANG DI BALIK PERANG

 

_Ilmu hikmah_



Wayan Supadno



Perang Israel dan Iran meletus ! Padahal gara - gara perang Rusia Ukraina, masih banyak negara kena kram kejang - kejang ekonominya. Indonesia rupiah juga lagi melemah, tembus Rp 16.117/dolar.


Analis ekonomi banyak memberikan pendapat dan saran. Yang pada umumnya agar menahan diri tidak belanja. Apalagi investasi ekspansi. Dengan dasar pertimbangan beragam portofolio yang disajikan.


Pandangan saya, justru sebaliknya. Inilah kesempatan emas kita menyerang, ibarat gerilya posisi lawan lagi pada lemah moril rendah dan dukungan logistik pasti akan berkurang. Bahkan banyak kelelahan lalu diam tanpa produktif.


Belajar dari pengalaman, perang selalu menghadirkan ancaman banyak pihak. Termasuk ancaman hilir mudik lalu lintas laut perdagangan. Ini berdampak pada makin langka energi dan pangan, hukum pasar bermain. Harga mahal.


Inilah peluangnya. Sekali lagi, inilah peluang emas sesungguhnya bagi kita. Jangan disia - siakan. Momentum tiada kan datang berulang kali. Sekali saja kita abai, tidak memanfaatkan. Akan jadi sesal.


Maka peluang akan dimanfaatkan pihak lain. Tapi kalau kita cerdas mau memainkan momentum ini, maka dapat rezeki nomplok. Jadi bekal modal, pengalaman dan ilmu lapangan untuk masa depan.


Contoh. Karena perang lalu sarana prasarana produksi pangan jadi terhalang distribusinya antar kawasan negara. Biaya produksi pangan jadi mahal. Nilai jual hasil produksi pangan kurang banyak, adapun mahal juga.


Produsen pangan di negara manapun juga mengalami kesulitan. Padahal falsafahnya ilmu pengetahuan, tiap kali ada " kesulitan " pertanda kita harus melakukan " penelitian " dapat invensi. Jika dihilirisasikan jadi inovasi, solutif sifatnya.


Beberapa waktu lagi, minyak bumi mahal. Biaya operasional produksi sarana misal pupuk kimia untuk memproduksi pangan ikutan mahal juga. Tidak diekspor demi aman negaranya. Pasti harga pangan dunia terdongkrak mahal.


Sehingga sangat tepat waktunya kita produksi sarana prasarana untuk pangan. Sangat tepat jika kita saat ini gerakan massal menanam pangan. Atau ternak yang tujuannya untuk pangan. Justru ini yang harus dilakukan.


Para importir kesulitan mencari barang dagangan yang mau didatangkan ke Indonesia. Saat itulah serangan fajar kita lakukan. Kita penuhi permintaan dalam negeri dengan menanam sendiri. Menyerang saat lawan lemah.


Sama halnya dengan energi fosil saat ini meroket. Kita punya energi terbaharukan yaitu sawit. Biodiesel, Bensawit dan Bioavtur. Jika kita impor energi fosil besar sekali menguras devisa karena harga mahal dan dolar menguat.


Tapi kalau kita berdayakan BBN Sawit. Selain hemat devisa juga mengangkat harga sawit. Petani sejahtera dan konsumen energi tidak terbebani. Ingat bahwa energi adalah nafas bangsa dan pangan soal hidup matinya bangsa.


Ilmu hikmahnya, apapun situasinya tergantung mindset kita. Energi dan peluang tiada pernah mati, kekal adanya. Termasuk ada ancaman karena perang, itu sama artinya peluang sedang dihidangkan untuk kita. Tentu hanya buat yang mau berbuat beda saja.


Satu hal lagi. Amerika Serikat bisa jadi negara terkuat di dunia karena selalu cipta kondisi agar dunia selalu terancam perang. Yang maksud tujuannya agar sumber penghasilan utamanya beromzet besar yaitu industri persenjataan perang. Agar dagangannya laku keras. Ehm !



Salam Mandiri 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586580630

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PT. Bina Indocipta Andalan bekerjasama dengan DJP mengadakan Webinar dengan tema "Pemadanan NIK Menjadi NPWP"

Bantu Kesulitan Warga, Kodim 0618/Kota Bandung Hadir Melalui Pemeriksaaan Kesehatan ( Tensi Gratis) di Lapangan Gasib

LP Buka Tutup, Kuasa Hukum Salah Satu Pemegang Saham. PT MSC, Advokat Salim Halim, SH,MH Akan Melaporkan Penyidik ke Propam Mabes Polri