MENGUNGKAP ALIH FUNGSI LAHAN

 





_Ilmu hikmah_


Wayan Supadno



Beberapa kisah nyata di bawah ini nantinya bisa jadi bahan kajian hingga jadi hipotesa atau kesimpulan. Bisa diambil ilmu hikmahnya sebagai bahan pembelajaran. Untuk bekal melangkah, agar lebih produktif lagi.


Hampir semua kota besar, di pinggirannya selalu ada lahan transisi antara fungsi pertanian dengan fungsi perindustrian. Sehingga terbentuk harga lahan mahal, lalu alih fungsi. Meninggalkan pertanian.


Seorang sahabat punya sawah tadah hujan di Jonggol Bogor, luas 1,5 hektar belinya 14 tahun silam hanya Rp 40.000/meter. Harga Rp 600 juta semuanya. Ditanami padi dan jagung. Sama persis dengan tetangga sawah lainnya.


Tahun 2021, dapat padi 9 ton dan 9 ton GKP/1,5 hektar. Jagung dapat sama juga 9 ton. Omzetnya 27 ton x Rp 7.000/kg = Rp 189 juta/tahun luas 1,5 hektar. Labanya Rp 60 jutaan/tahunnya. Ini laba tertinggi dalam sejarahnya jadi petani luas 1,5 ha. 


Karena penambahan jumlah penduduk, jadilah sasaran pengembang perumahan untuk 100 unit rumah. Dijual laku Rp 400.000/meter, total Rp 6 miliar. Setahun rumah habis terjual. Laba pengembang minimal Rp 1 miliar, mereka makin semangat alih fungsi lahan.


Sementara kalau hanya ditanam padi dan jagung. Untuk kembali modal investasi (ROI) Rp 6 miliar. Berarti butuh 100 tahun, dari laba Rp 60 juta x 100 tahun. Terlalu lama. Secara kajian agribisnis tidak feasible.


Tapi karena sukanya agribisnis lalu dana Rp 6 miliar dibelikan kebun sawit umur 8 tahun. Dapat 50 ha. Tiap bulan dapat sekitar 2 ton TBS/ha atau dapat omzet 2 ton/ha x 50 ha x 12 bulan x Rp 2.500/kg = Rp 3 miliaran/tahun.


Dapat laba minimal 50% dari omzetnya sekitar Rp 1,5 miliar/tahun. Praktis ROI-nya hanya 4 tahun saja. Laba didapat sama modal investasinya tapi bisa 25 kali lipatnya dibanding saat masih wujud sawah menanam padi dan jagung.


Implikasinya, ekonomi keluarga jauh lebih sehat. Anak - anaknya bisa studi dengan leluasa hingga pascasarjana sekalipun juga. Jauh lebih tenang dan dinamis. Tanpa juga membebani APBN dengan memakai pupuk NPK subsidi. 


Mengamankan keluarga, sama artinya membangun bangsanya. Itu prinsip yang dipegang keluarga tersebut. Selain itu juga mengkaryakan 5 KK untuk mengurus 50 hektar sawit tersebut. Cipta lapangan kerja, pajak dan devisa.


Kesimpulan. Bahwa alih fungsi lahan pertanian tidak bisa dielakkan karena penambahan jumlah penduduk. Butuh lahan perumahan dan kawasan industri untuk cipta padat karya. Luas 1,5 ha pabrik bisa menyerap ratusan pengangguran.


Ilmu hikmahnya. Bahwa dalam agribisnis banyak dasar kajiannya pada pra investasi. Termasuk percepatan kembali modal (ROI). Makin cepat ROI maka makin baik. Apalagi jika ikut mengangkat dari pengangguran jadi produktif, masyarakat di sekitarnya.


Solusinya, ibarat durian dan mentimun tidak boleh diaduk dalam satu karung. Pasti mentimunnya yang babak belur sekalipun duriannya tidak banyak. Sama persis pengembang perumahan dan industri pabrik jika satu lokasi dengan lahan pertanian.


Harga lahan Rp 4 miliar/ha, bukan masalah jika peruntukan industri karena cepat ROI-nya. Tapi bagi petani pajale itu terlalu mahal. Lama ROI-nya. Ini data fakta empirik ekonometrika bisa jadi pedoman prediksi dan antisipasi di masa depan. Harus cetak sawah baru. Sebagai penggantinya.



Salam 🇮🇩

Wayan Supadno

Pak Tani

HP 081586580630

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PT. Bina Indocipta Andalan bekerjasama dengan DJP mengadakan Webinar dengan tema "Pemadanan NIK Menjadi NPWP"

Bantu Kesulitan Warga, Kodim 0618/Kota Bandung Hadir Melalui Pemeriksaaan Kesehatan ( Tensi Gratis) di Lapangan Gasib

LP Buka Tutup, Kuasa Hukum Salah Satu Pemegang Saham. PT MSC, Advokat Salim Halim, SH,MH Akan Melaporkan Penyidik ke Propam Mabes Polri