CEO Group | LEMBANG — Menjadi seorang kepala desa bukan semata-mata karena memiliki kekayaan maupun dianggap sebagai orang pintar. Lebih dari itu, seorang kepala desa harus mampu membangun kepercayaan masyarakat, memahami persoalan warga, serta hadir di tengah-tengah masyarakat dalam berbagai kondisi.
Hal tersebut disampaikan Kepala Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, D. Sukaya, yang saat ini telah memasuki tahun terakhir masa jabatannya setelah dipercaya masyarakat memimpin Desa Cibodas selama tiga periode.
Bagi D. Sukaya, perjalanan menjadi kepala desa merupakan proses panjang yang dibangun dari pengalaman berorganisasi dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Sebelum mencalonkan diri sebagai kepala desa, ia terlebih dahulu aktif dalam organisasi kepemudaan dan kemudian dipercaya menjadi Ketua RW.
Dari pengalaman tersebut, dirinya banyak belajar mengenai bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat, memahami persoalan di lingkungan, serta mencari jalan keluar terhadap berbagai persoalan yang dihadapi warga.
“Jadi kepala desa itu bukan karena orang kaya atau orang pintar. Saya sebelum menjadi kepala desa terlebih dahulu masuk organisasi kepemudaan, kemudian menjadi RW, sampai akhirnya maju dan terpilih menjadi kepala desa,” ujar D. Sukaya.
Ia menuturkan, pada tahun 2007 dirinya dipercaya masyarakat untuk menjadi kepala desa. Ketika itu, wilayah yang dipimpinnya masih berada di Kabupaten Bandung.
Seiring dengan perkembangan pemerintahan daerah dan terbentuknya Kabupaten Bandung Barat, Desa Cibodas kemudian menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Bandung Barat.
“Pada tahun 2007, saat itu saya terpilih menjadi kepala desa. Kemudian dengan adanya perkembangan pemerintahan daerah, yang sebelumnya masih Kabupaten Bandung, sekarang menjadi Kabupaten Bandung Barat,” jelasnya.
Tiga Periode Menjadi Kepala Desa
Kepercayaan masyarakat yang diperoleh D. Sukaya tidak hanya sekali. Dirinya kembali dipercaya untuk memimpin Desa Cibodas hingga tiga periode.
Selama menjalankan amanah tersebut, ia mengaku selalu berupaya menjaga kedekatan dengan masyarakat. Baginya, jabatan kepala desa bukan sekadar posisi administratif, melainkan amanah untuk mengurus dan melayani warga di wilayah yang dipimpinnya.
“Alhamdulillah, saat ini saya sudah menjadi kepala desa selama tiga periode. Saya selalu berusaha dekat dengan warga masyarakat saya,” katanya.
Kedekatan tersebut diwujudkan dengan berusaha hadir dalam berbagai kegiatan maupun situasi yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, kepala desa tidak cukup hanya berada di kantor dan menjalankan tugas administratif, tetapi juga harus mengetahui kondisi masyarakat secara langsung.
Bahkan, bagi D. Sukaya, membantu masyarakat tidak harus selalu menggunakan materi. Ada banyak cara yang dapat dilakukan seorang pemimpin untuk memberikan manfaat kepada warga.
“Buat saya, membantu itu kalau punya materi, ya dengan materi. Kalau tidak punya, ya dengan tenaga. Kalau tenaga tidak ada, ya dengan pikiran,” ungkapnya.
Kepala Desa Harus Turun ke Wilayah
D. Sukaya menilai, salah satu cara untuk mengetahui kondisi masyarakat adalah dengan turun langsung ke wilayah. Dengan begitu, kepala desa dapat melihat berbagai persoalan yang terjadi secara nyata dan tidak hanya memperoleh informasi dari laporan.
Ia pun berupaya hadir ketika masyarakat sedang menghadapi berbagai momentum penting, baik dalam suasana suka maupun duka.
“Kalau ada warga masyarakat yang meninggal, hajatan dan berbagai permasalahan, saya harus hadir,” tuturnya.
Menurutnya, kehadiran kepala desa di tengah masyarakat memiliki arti penting.
Selain menunjukkan kepedulian, kehadiran tersebut juga menjadi kesempatan bagi pemerintah desa untuk mendengarkan langsung aspirasi dan keluhan warga.
“Bagi saya, kepala desa itu bukan pangkat, tapi kepala wilayah. Oleh karena itu, saya harus sering turun ke wilayah,” tegas D. Sukaya.
Prinsip tersebut menjadi salah satu pegangan D. Sukaya selama menjalankan tugasnya sebagai kepala desa. Ia berusaha agar hubungan antara pemerintah desa dengan masyarakat tidak berjarak.
Dengan turun langsung ke lingkungan masyarakat, berbagai persoalan dapat diketahui lebih cepat. Kepala desa juga dapat melihat kebutuhan warga secara langsung dan mengakomodir berbagai persoalan yang membutuhkan perhatian pemerintah desa.
“Kehadiran saya di tengah masyarakat itu untuk mengakomodir dan melihat langsung berbagai macam permasalahan yang ada di masyarakat,” katanya.
Mengabdi Melalui Kedekatan dengan Warga
Memasuki tahun terakhir masa jabatannya sebagai Kepala Desa Cibodas, D. Sukaya menyampaikan bahwa pengalaman selama memimpin desa telah memberikan banyak pelajaran. Salah satunya adalah pentingnya membangun komunikasi dan kepercayaan dengan masyarakat.
Menurutnya, pemerintahan desa pada dasarnya merupakan pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, kepala desa harus mampu memahami apa yang terjadi di lingkungannya dan tidak boleh menutup diri dari persoalan warga.
Kehadiran seorang kepala desa, lanjutnya, bukan hanya ketika ada kegiatan resmi pemerintahan, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan perhatian dan dukungan.
Baginya, menjadi kepala desa adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Pengalaman berorganisasi sejak menjadi bagian dari organisasi kepemudaan, kemudian menjadi Ketua RW, hingga akhirnya dipercaya masyarakat sebagai kepala desa selama tiga periode, menjadi perjalanan panjang dalam pengabdiannya kepada masyarakat.
D. Sukaya berharap semangat kebersamaan dan kedekatan antara pemerintah desa dengan masyarakat dapat terus dipertahankan. Sebab, pembangunan desa tidak hanya dapat dilakukan oleh pemerintah desa, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Yang paling penting bagi saya adalah bagaimana kita bisa hadir di tengah masyarakat, melihat langsung persoalan mereka, dan sebisa mungkin memberikan solusi sesuai kemampuan yang kita miliki,” pungkasnya.***

0 Komentar